Pengantar ke langkah dalam Silek (1)

0
112
Emral Djamal Dt. Rajo Mudo

Oleh H. Emral Djamal Dt. Rajo Mudo
(Tulisan ini diambil dari Majalah Saga)

Agar memperoleh kemampuan, kemahiran dan keahlian dalam Pencak Silat Minangkabau yang mencakup aspek-aspek fisikal, mental dan spiritual, dengan nilai-nilai falsafah estetika dan etika khas menurut Adat dan Limbago Minangkabau, diperlukan kemauan yang sungguh-sungguh, ketekunan dan kesabaran dalam melalui sistem latihan, pembelajaran dan mengerjakan latihan penempaan fisik dan mental yang ketat dengan segala aspek dan disiplinnya. Untuk itu dibutuhkan guru yang bertindak sebagai pembimbing, penuntun, pengajar, dan pelatih yang juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan pendukung baik dalam bidang adat maupun syarak, secara syariat maupun hakekat. Dengan begitu, ilmu yang diwariskan tidak melenceng ke arah kemerosotan nilai atau keluar dari alur adat dan syarak yang dibolehkan, bahkan dapat pula mengembangkan dan meneruskan kepada generasi berikutnya sebagai warisan yang bernilai luhur, mulia dan terpuji.


Tulisan ini bukanlah penuntun teknis dari suatu latihan Pencak Silat Minangkabau, karena masalah ini jauh dari jangkauan penulis. Tetapi marilah kita mencoba mengenal tentang sesuatu yang menjadi warisan seni budaya kita di Alam Minangkabau ini. Karena dengan pengenalan yang demikian akan dirasa kembali timbul suatu motivasi dengan kontak-kontak respons yang dalam, di mana kemudian kita rasakan bahwa warisan itu bagaimanapun kecilnya adalah sesuatu yang berharga dan perlu untuk dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan kekiniannya.

Dengan dasar pemikiran itu, tulisan ini bermaksud untuk memperkenalkan beberapa nilai ajaran yang dikandung, baik secara fisikal, mental atau spiritual yang secara filosofis. Begitupun nilai falsafah Adat dan Syarak yang dikandungnya, dengan mempergunakan tubuh dirinya sebagai media ungkap bagi nilai ketahanan fisikal, mental dan spritual sebagai pertahanan dan pembelaan diri. Itulah beberapa kesimpulan pokok yang mendasari Pencak Silat sebagai produk budaya leluhur negeri sendiri, di wilayah Tanah Alam Minangkabau ini. Kesimpulan-kesimpulan itu barngkali jauh dari sempurna, seperti ungkapan masyarakat lapau di kampung-kampung mengatakan:

kalau indak ado kopi, teh paik pun jadi
kalau indak ado tek paik, aie putieh-pun jadi
kalau indak ado aie, mangko sumua paralu digali.

Nilai Pencak Silat Minangkabau secara tradisi saling hubung menghubungkan dirinya (berinteraksi) dengan nilai-nilai Adat Alam Minangkabau, dan Adat itu saling hubung menghubungkan dirinya pula kepada nilai-nilai ajaran Syarak yang dianut dan diyakini masyarakat pendukungnya, bahkan menjadi Sandi Adat. (bersambung)