Silek Sitaralak, Starlak, Terlak, Sterlak

0
91

Aliran silat keras dan kuat dari Minangkabau, berasal dari Agam

MENGENAL SILAT TRADISIONAL REJANG: STERLAK REJANG
emongnovaostia (43)in #indonesia • 4 years ago (edited)
MENGENAL SILAT TRADISIONAL REJANG: STERLAK REJANG

image.png
Dua orang pendekar sedang berlatih sterlak, circa 1949
Sumber: Gedenkboek Palboem
Ada kelangkaan tulisan mengenai silat Rejang yang bernama sterlak, kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Kelangkaan ini terutama sekali dikarenakan belum adanya penelitian tentang seni bela diri tradisional ini. Tulisan ini berdasarkan hasil penelitian sederhana yang penulis lakukan beberapa tahun lalu di daerah-daerah, a.l: Dwi Tunggal, Air Rambai, Air Meles, Talang Ulu, Kesambe dan Dusun Curup, yang kesemuanya di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu

Pengertian Sterlak
Sterlak merupakan suatu bela diri pencak silat masyarakat Rejang (ruang lingkup Curup untuk tulisan ini). Tidak ada jurus serangan dalam bela diri ini. Semua gerakan adalah untuk menangkis dan menangkap. Sesuai dengan apa yang dinyatakan narasumber bernama Sani, mantan Pasirah Pasar Curup, yang memberikan arti sterlak sebagai penangkis.

Tidak ditemui juga kuda-kuda dalam bela diri ini, pesilat hanya berdiri tegak biasa untuk menerima serangan. Pun tidak ada jurus-jurus dasar sebagaimana yang ada pada seni bela diri lain. Jikapun ada yang harus disebut jurus dasar, maka jurus dasar terpenting yang harus kuasai adalah jurus menangkap serangan lawan, sesuai dengan prinsip dasar sterlak: melumpuhkan lawan dengan serangannya sendiri. Saat berlatih, pengikut sterlak selalu berpasangan-pasangan, bergantian menyerang dan menangkis. Karena tidak ada jurus-jurus, maka dalam sterlak aslinya pun tidak ada kembangan (kombinasi jurus; dalam karate lazim disebut “kata”) dan tari (sebagaimana yang bisa kita lihat pada silat Sitaralak Minangkabau, atau silat Cimande Sunda).

Apakah sterlak ini merupakan bela diri asli masyarakat Rejang?

Kemungkinan besar asli, dengan campuran gerak-gerak bela diri dari luar Rejang. Beberapa gerakan dalam sterlak juga dapat ditemui pada sitaralak, bela diri tradisional Minangkabau. Gerakan-gerakan pertahanan sterlak juga banyak mirip dengan kuntau (seni bela diri Melayu yang diadaptasi dari seni bela diri Cina). Perlu penelitian lebih lanjut untuk hal ini, apakah saling mempengaruhi atau memang hasil migratoris.

Peragaan Silat Rejang di hadapan tamu agung
Sumber
Etimologi Kata “Sterlak”
Belum ada kesepakatan terhadap arti kata sterlak. Seorang narasumber bernama Sani (mantan Pasirah Pasar Curup) mengatakan, bahwa kata sterlak berasal dan kata seteralek yang artinya “kilat”. Tidak ada penjelasan atau alasan yang bisa diberikan oleh narasumber untuk arti yang disampaikannya itu.
Narasumber lain, yakni Wak Naim, yang saat diwawancara adalah guru besar untuk sterlak di Cawang menceritakan, bahwa seorang raja bernama Rajo Miko yang bergelar Pengeran (Pangeran) Dalang, pada sebuah perjalanannya melewati pinggir talang yang ditanami deretan panjang batang pinang. Saat itu sang raja diringi dua pengawalnya yang bernama Pelima Bobok dan Pelima Nando, yang masing-masing membawa 70 orang prajurit. Melewati suatu tempat, setangkai pelepah pinang jatuh dengan deras ke arah kepala Rajo Miko. Ketika hampir satu jari lagi ke kepala Rajo Miko, Baginda cepat bergerak dengan gerakan yang sukar diikuti mata, tiba-tiba saja pelepah itu sudah digenggamnya. Orang-orang yang menyaksikan hal itu berteriak, “Seteralek!”.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut apa makna kata “seteralek” yang dimaksud.

Kata sterlak dan seteralek tidak penulis temui dalam lisan sehari-hari, maupun dalam kamus bahasa Rejang, baik itu kamus Rejang Indonesia, maupun dalam kamus Rejang-Belanda. Apakah sterlak/seteralek itu merupakan bahasa rejang, unsur serapan atau sebuah kosa kata arkais (kosa kata yang dianggap purba atau telah punah).

Berpegang pada kemungkinan ia berasal dari unsur serapan atau pinjaman dari dari bahasa luar, maka sterlak dapat disejajarkan dengan kata telak dan bahasa Melayu yang berarti tepat sekali(Poerwadarminta, 1949). Dengan adanya proses afentesis, telak mendapat bunyi sisipan –er. Ada kemungkinan juga kata dasar t(er)alak yang berasal dari bahasa Arab, yakni talaq, yang artinya pisah, memisahkan, membobol atau memecahkan.

image.png
Sumber
Antara Silat Harimau dan Sterlak
Silek rimau atau silat harimau adalah bagian dari sterlak yang bersifat kondisional. Tidak ada latihan khusus untuk gerak silat harimau ini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Harun Wahab (mantan anggota DPRD Rejang Lebong dan sesepuh adat Rejang) yang mengatakan, bahwa gerakan-gerakan atau jurus harimau hanya muncul pada saat seorang pengikut sterlak mengalami “trance”, kondisi dimana tubuh seorang pengikut sterlak dipercayai tengah susupi atau dimasuki akuannya (nama gelar pelindung mitis). Akuan ini akan hadir setelah seorang pengikut sterlak mengucapkan mantera tertentu, yang kadang-kadang dilakukan juga sambil membakar kemenyan.

Aliran-Aliran pada Sterlak Rejang
Secara umum ada tiga aliran dalam Sterlak, aliran Musi, aliran Kesambe dan aliran Nieniek Kerew (yang merupakan pecahan dari aliran Kesambe). Aliran Musi berkembang dari desa Seguring, Tabarenah, Lubuk Kembang, Dusun Sawah dan Dusun Curup. Aliran Kesambe berkembang dari Sukaraja, Kesambe Lama, Kesambe Baru, Cawang, Air Rambai dan Air Putih. Sementara aliran Nieniek Kerew awal hanya di wilayah Kesambe Lama, namun kemudian jurus-jurus dan tata cara yang dipergunakan aliran ini juga telah dipakai pada aliran lainnya.

Nieniek Kerew adalah gelar bagi Abdul Hamid, seorang guru tua di daerah Kesambe Lama, karena kidal lalu membentuk gerakan sterlak baru, yaitu gerakan tangkisan yang banyak menggunakan tangan kiri, karena umumnya gerakan sterlak yang ada menggunakan tangan kanan. Abdul Hamid meninggal dunia sekitar tahun 1964. Sekarang dia dianggap sebagai salah seorang ‘guru halus’.

Aliran Kesambe merupakan aliran yang lebih terbuka dibandingkan aliran lainnya. Dekat dengan pusat perkotaan, membuat aliran ini kemudian dapat menerima dan menyerap bentuk-bentuk dari seni bela diri lain, terutama sekali bentuk gerak tari dari sitaralak Minangkabau. Gerak sterlak yang sering dipergunakan pada tari-tari adat, seperti pada tari menyambut tamu merupakan bentuk perkembangan dari sterlak aliran Kesambe yang berkembang di Kesambe Baru.

image.png
Salah satu bentuk Sterlak yang telah mengenal jurus atau kembangan, sering dipergunakan sebagai bagian dari tari penyambutan tamu agung
Sumber
Belabeai
Belabeai (belabar: tanah yang luas) adalah arena berlantai tanah tempat berlatih sterlak. Belabar berbentuk segi empat dan dikelilingi dengan pagar kayu setinggi 1 meter. Pendirian belabar biasanya pada tempat yang relatif jauh dari pemukiman ramai. Ditambah dengan waktu latihan sterlak selalu pada malam hari, maka bisa disimpulkan belabar bersifat rahasia dan tertutup. Sifat tertutup ini ditegaskan dengan adanya dua perguruan sterlak yang ditemui, yakni yang berada di Dusun Curup dan Air Rambai memilih tempat sebuah ruangan kosong di bawah rumah panggung sebagai tempat latihan.

Untuk memasuki belabar seseorang harus lebih dulu mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”. Walaupun belabeai merupakan tanah, namun untuk memasukinya diharuskan membuka alas kaki, biarpun belabeai dalam keadaan becek sekalipun.

Perangkat utama yang ditemui dalam belabar ada dua, yaitu tungku api unggun dan sebuah bangku yang dibuat agak tinggi. Tungku api unggun yang terletak di pinggir belabeai akan dinyalakan saat latihan berfungsi untuk:

Tanda bahwa di sana sedang diselenggarakan upacara, tanda ini diberikan baik kepada ‘orang kasar’ maupun pada ‘orang halus’.
Pembakaran kemenyan
Alat penerangan
Sedangkan bangku kayu yang dibuat agak tinggi tersebut tidak bisa diduduki oleh setiap pengikut sterlak, karena bangku itu merupakan tempat duduk guru dan ‘guru halus’ yang datang melihat upacara.

Benda-benda lain yang dibawa ke belabeai pada saat upacara adalah:

Air dalam kendi atau cerek, gunanya untuk minum, pentahbisan dan untuk mengobati jika ada yang mengalami kecelakaan
Jeruk nipis, gunanya untuk dibalurkan ke tubuh, dimana sebelumnya telah dimanterai oleh guru, yang akan dibawa pulang oleh para pengikut sterlak.
Kembang/bunga, sebagai sajian bagi ‘guru halus’
Keris pusaka
Belati, gunanya untuk mengiris jeruk nipis tadi dan bagi murid yang telah dihitung mahir, dipergunakan dalam latihan dengan kawan tanding.

Sumber
Upacara Penerimaan
Seseorang yang akan mengikuti atau mempelajari atau dalam bahasa Rejangnya ‘belajeai’, ia akan diberikan syarat-syarat khusus yang terdiri atas:

ayam hitam polos
benang hitam
kain putih
baju hitam dua helai
beras hitam
kemenyan
bunga tujuh macam
jeruk nipis, paling sedikit tiga buah
pisaul belati
candu.
Dalam dunia mitis Rejang diterangkan, bahwa dalam diri tiap-tiap manusia terdapat bayangan hitam yang selalu mengikuti manusia dalam kehidupan sehari-hari. Bayangan ini memiliki suatu kekuatan yang hebat dan bisa mencelakakan diri. Dengan diberikannya benda-benda berwarna yang merupakan syarat-syarat tadi dimaksudkan untuk mendekati bayangan hitam tersebut, agar kemudian bisa menjadi pelindung.

Ayam hitam yang selanjutnya dipanggang beserta syarat-syarat lainnya akan dibawa ke belabar dalam sebuah talam. Hati ayam itu kemudian harus dimakan oleh calon pengikut. Hati ayam ini simbol menyatukan unsur-unsur bayangan hitam dengan manusia.

Benang hitam nantinya akan dipasang pada sekeliling pagar blabeai. Apa yang disebut dengan pagar pada sterlak ini, sebenarnya benang hitam hitam itu itu sendiri, sedangkan pagar kayu yang dibuat lebih ditekankan hanya sebagai batas belabar dengan tanah atau wilayah yang ada di luar.
Kain putih pada saatnya akan dipergunakan sebagai cuk uleu (ikat kepala), yang bermakna suatu ikatan manusia dengan dunia gaib. Baju hitam yang disediakan dua helai akan dipakai dalam upacara dimana satu helai akan diberikan kepada guru. Baju hitam ini juga sebagai pembeda dengan golongan luar.

Seperti yang dijelaskan seorang narasumber, kebanyakan upacara penerimaan akan selesai dengan sang calon memakai baju hitam. Namun pada perguruan yang mengikuti tata cara Nieniek Kerew upacara penerimaan akan dilanjutkan di luar belabar.

Pada perguruan Nieniek Kerew calon disuruh pergi ke air mengalir (sungai) yang ada. Dia tidak boleh membawa alat penerangan, walau korek api sekalipun dan tanpa teman.

Sebagamana juga yang penulis saksikan pada perguruan sterlak di Sukaraja, yang dipimpin oleh Nazar, upacara ini berlangsung tengah malam. Di sungai dia harus menyelam sebanyak 3 kali dan mengucapkan mantera yang telah diberikan sebelumnya. Setelah mengucapkan mantera itu, dengan mulut ia mengambil batu kerikil di dasar sungai, yang kemudian dibawa kembali ke belabar.

Ucap/mantera yang diucapkan itu disebut sebagai ucap pembuka.

bismillahirahmannirahim
limau purut limau zamzam
satu iris selam mekah
satu iris pembawo cahayo
kucuci dalam kucuci luar
kucuci segalo lam ucap
aku berkat lailahailallah muhammadarrasulul1ah

https://steemit.com/indonesia/@emongnovaostia/mengenal-silat-tradisional-rejang-sterlak-rejang