Sejarah Silek Minangkabau

1
151

Pendiri silek (Silat) di Minangkabau adalah Datuak Suri Dirajo, Penasehat Kerajaan Minangkabau waktu itu. Ia juga memiliki empat pengawal kerajaan Minangkabau berjuluk Kambiang Utan, Harimau Campo, Kuciang Siam, dan Anjiang Mualim.

Datuak Suri Dirajo diperkirakan mendirikan sasaran silek pada tahun 1119 Masehi di daerah Pariangan, Padangpanjang, Sumatera Barat. Di masa Datuak Suri Dirajo inilah silek Minangkabau pertama kali diramu, dan gerakan-gerakan beladiri dari pengawal yang empat orang tersebut turut mewarnai silek itu sendiri.

Kambiang Utan diperkirakan berasal dari Kamboja. Harimau Campo berasal dari daerah Negeri Champa, Kuciang Siam diyakini datang dari Siam atau Thailand, dan Anjiang Mualim datang dari Persia. Nama-nama mereka memang seperti nama hewan (Kambing, Harimau, Kucing dan Anjing), namun tentu saja mereka adalah manusia, bukan hewan menurut persangkaan beberapa orang. Asal muasal Kambiang Hutan dan Anjiang Mualim memang sampai sekarang membutuhkan kajian lebih dalam dari mana sebenarnya mereka berasal karena nama mereka tidak menunjukkan tempat secara khas.

Mengingat hubungan perdagangan yang berumur ratusan sampai ribuan tahun antara pesisir pantai barat kawasan Minangkabau (Tiku, Pariaman, Air Bangis, Bandar Sepuluh dan Kerajaan Indrapura) dengan Gujarat (India), Persia (Iran dan sekitarnya), Hadhramaut (Yaman), Mesir, Campa (Vietnam sekarang), dan bahkan sampai ke Madagaskar di masa lalu, bukan tidak mungkin silat Minangkabau memiliki pengaruh dari beladiri yang mereka miliki.

Sementara itu, dari pantai timur Sumatera melalui sungai dari Provinsi Riau yang memiliki hulu ke wilayah Sumatera Barat (Minangkabau) sekarang, maka hubungan beladiri Minangkabau dengan beladiri dari Cina, Siam dan Champa bisa terjadi karena jalur perdagangan, agama, ekonomi, dan politik. Beladiri adalah produk budaya yang terus berkembang berdasarkan kebutuhan di masa itu. Perpaduan dan pembauran antar beladiri sangat mungkin terjadi.

Jadi boleh dikatakan bahwa silat di Minangkabau adalah kombinasi dari ilmu beladiri lokal, ditambah dengan beladiri yang datang dari luar kawasan Nusantara. Jika ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwa langkah silat di Minangkabau yang khas itu adalah buah karya mereka.

Langkah silat Minangkabau sederhana saja, namun di balik langkah sederhana itu, terkandung kecerdasan yang tinggi dari para penggagas ratusan tahun yang lampau. Mereka telah membuat langkah itu sedemikian rupa sehingga silek menjadi plastis untuk dikembangkan menjadi lebih rumit.

Guru-guru silek atau pandeka yang lihai adalah orang yang benar-benar paham rahasia dari langkah silat yang sederhana itu, sehingga mereka bisa mengolahnya menjadi bentuk-bentuk gerakan silat sampai tidak terhingga jumlahnya.

Kiat yang demikian tergambar di dalam pepatah jiko dibalun sagadang bijo labu, jiko dikambang saleba alam (jika disimpulkan hanya sebesar biji labu, jika diuraikan akan menjadi selebar alam).

Gerakan silek itu diambil dari berbagai macam hewan yang ada di Minangkabau, contohnya Silek Harimau, Kucing dan Silek Buayo (Buaya). Namun dalam perkembangannya, ada sasaran silek, umumnya silek yang berasal dari kalangan tarekat atau ulama menghilangkan unsur-unsur gerakan hewan di dalam gerakan silek mereka, karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Orang Minang menganut falsafah Alam takambang jadi guru . Falsafah itu merupakan konsep universal dari budaya alam Minangkabau. Kata “alam”, berasal dari bahasa Sanskerta artinya sama dengan lingkungan kehidupan atau daerah. Konsep ini juga diterjemahkan oleh para pendiri silat pada masa dahulunya menjadi gerakan-gerakan silat. Antara silat dan produk budaya lain di Minangkabau adalah satu kesatuan filosofis, jadi untuk menerangkan silat, pepatah-pepatah yang biasa diucapkan dalam upacara adat bisa digunakan. (*)

1 COMMENT

Comments are closed.