Sejarah Minangkabau Hingga Jadi Provinsi Sumatera Barat

0
124

Sejarah bermula pada masa kerajaan Adityawarman, yang merupakan tokoh penting Minangkabau. Seorang Raja yang tidak ingin disebut sebagai Raja, pernah memerintah di Pagaruyuang, daerah pusatkerajaan Minangkabau, selain itu beliau juga orang pertama yang memperkenalkan sistim kerajaan di Sumatera Barat.

Sejak Pemerintah Raja Adityawarman tepatnya pertengahan abad ke – 17, Propinsi ini lebih terbuka dengan dunia luar khususnya Aceh. Karena hubungan dengan Aceh yang semakin intensif melalui kegiatan ekonomi masyarakat, akhirnya mulai berkembang nilai baru yang menjadi landasan sosial budaya masyarakat Sumatera Barat.

Agama Islam sebagai nilai baru tersebut berkembang dikalangan masyarakat dan berangsur- angsur mendominasi masyarakat Minangkabau yang sebelumnya didominasi agama Budha. Selain itu sebagian kawasan di Sumatera Barat yaitu pesisir pantai masih berada dibawah kekuasaan kerajaan Pagaruyung, namun kemudian bagian dari kesultanan Aceh.

Melirik sejarah singkat Minangkabau, merupakan salah satu desa yang berada dikawasan Kecamatan Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat. Desa tersebut awalnya merupakan tanah lapang. Namun karena adanya isu yang berkembang bahwa kerajan Pagaruyuang akan diserang kerajaan Majapahit dari daerah Jawa maka terjadilah peristiwa adu kerbau atas usul kedua belah pihak. Kerbau terebut mewakili perperangan kedua kerajaan. Karena kerbau Minang berhasil memenangkan perkelahian maka muncul kata manang kabau yang selanjutnya dijadikan nama Nagari atau desa tersebut.

Upaya penduduk setempat mengenang peristiwa bersejarah tersebut, penduduk Pagaruyuang mendirikan rumah loteang ( rangkiang) dimana atapnya berbentuk tanduk kerbau. Menurut sejarah, rumah tersebut didirikan dibatas tempat bertemunya kerajaan Majapahit yang dijamu dengan hormat oleh wanita cantik pagaruyuang. Situasi masyarakat saat itu pada umumnya dengan cara berdagang, bertaniawah, hasil hutan dan mulai berkembang bertambang emas.

Beberapa pertanyaan yang timbul bahwa alat transportasi yang digunakan untuk menelurusi dataran tinggi Minangkabau adalah kerbau. Alasan menggunakan kerbau karena agama yang dipercaya pada waktu itu diajarkan untuk menyayangi binatang gajah, kerbau dan lembu. Karena ajaran tersebut menreka menggunakan kerbau sebagai masyarakat dengan adu kerbau.

Bukti arkeolog mengatakan bahwa daerah kawasan Minangkabau yaitu Lima Puluh Koto merupakan daerah yang dihuni untuk pertama kali oleh nenek moyang orang Sumatera diperkirakan berlayar melalui rute ini dan sebagian menetap dan mengembangkan peradaban disekitar Lima Puluh Koto tersebut.

Terbukanya Propinsi Sumatera Barat terhadap dunia luar menyebabkan kebudayaan yang semakin berkembang oleh bercampurnya para pendatang. Jumlah pertumbuhan penduduk ke berbagai lokasi Sumatera Barat. Sebagian menyebar ke selatan dan sebagian kebagian barat Sumatera.

Jatuhnya kerajaan Pagaruyuang dan terlibatnya negara Belanda di Perang Padri, menjadikan daerah pedalaman Minangkabau menjadi bagian dari Pax Nerderlandica oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian daerah Miangkabau dibagi menjadi Residentie Padangsche Bovenlanden serta Benedenlanden.

Pada zaman VOC, Hoofdcomptoir van Sumatra’s westkust merupakan sebutan untuk wilayah pesisir barat Sumatera. Hingga abad ke – 18, Propinsi Sumatera Barat semakin terkena pengaruh politik dan ekonomi akhirnya kawasan ini mencangkup daerah pantai barat Sumatera. Kemudian mengikuti perkembangan administratif pemerintah Belanda, kawasan ini masuk dalam pemerintahan Sumatra’s Westkust dan di ekspansi lagi mengabungkan Singkil dan Tapanuli.

Selanjutnya masa pendudukan Jepang dikawasan ini, Residen Sumatra’s Westkust berganti nama dengan bahasa Jepang yaitu Sumatoro Nishi Kaigan Shu kemudian digabung kewilayah Rhio Shu. Sampai awal kemerdekaan negara Republik Indonesia 1945, daerah Sumatera Barat digabungkan dengan Propinsi Sumatera Barat yang berdomisili di Bukittinggi. Tahun 1949 Propinsi Sumatera mengalami perpecahan menjadi 3 kawasan, yakni Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah yang mencangkup Sumatera Barat, Jambi dan Riau. (sumber : Oleh : Teguh Gunung Anggun sumbarprov.go.id)