Sejarah Langkah Dalam Silek

0
257
Potret sekelompok pria sedang memamerkan gerakan pencak silat dengan latar depan kulit harimau. Sumatra-Barat, sekitar 1890 | Indonesia, Pencak silat, Pria. (Zalmi Eka Putra - Pinterest)

Sewaktu Datuk Nan Batigo membentuk Luhak Nan Tigo (1186 M ) dan membuka tanah Rantau (mula-mula didirikan Kerajaan Sungai Pagu 1245 M, ketika itu Raja Alam Pagaruyung, ialah Rum Pitualo, cicit dari Putri Jamilah atau kemenakan cicit dari Datuk Ketumanggungan), maka para pemimpin rombongan yang pindah membawa penduduk, adalah anggota pilihan dari barisan pertahanan dan keamanan kerajaan.

1. Luhak Tanah Datar, pimpinan rombongan ialah anggota barisan Kucieng Siam.

2. Luhak Agam, dipimpin oleh barisan Harimau Campo.

3. Luhak Limapuluh-Payakumbuh, dipimpin oleh anggota barisan Kambieng Hutan.

4. Tanah Rantau dan Pesisir dipimpin oleh anggota barisan Anjieng Mualim.

Keempatnya merupakan pengawal dari Datuak Suri Dirajo Baca Sejarah Silek Minangkabau

Fungsi dan tugas yang dipikul masing-masing rombongan itu diperjelas sbb

1. Barisan pengawal kerajaan , Anjieng Mualim berfungsi sebagai penjaga keamanan. Aliran Silat Anjieng Mualim : Diberikan kepada Tanah Rantau-Pesisir adalah daerah-daerah di sekitar lembah-lembah sungai dan anak sungai dari pegunungan Bukit Barisan.

2. Barisan Perusak, Kambieng Hutan berfungsi sebagai destroyer atau zeni. Aliran silat Kambieng Hutan : Luhak Limapuluh-Payokumbuh mendapatkan lambang tersebut

3. Barisan Pemburu, Harimau Campo berfungsi sebagai Jaguar atau pemburu. Aliran Silat Harimau Campo: Lambang Harimau Campo diberikan kepada Luhak Agam.

4. Barisan Penyelamat, Kucieng Siam berfungsi sebagai anti huru-hara. Aliran Silat Kucieng Siam: Sekarang nama Kucieng Siam menjadi lambang daerah Luhak Tanah Datar.

Jadi silat Minang mempunyai dua macam persilatan yang menjadi inti yang khas: Langkah Tigo ( Kucieng Siam ) dan Langkah Ampek ( Anjieng Mualim ).

kemudian selanjutnya langkah tersebut berkembang menjadi Langkah Sembilan.

Langkah Sembilan selanjutnya tidak lagi disebut sebagai Silat, namun sudah berubah dengan nama Pencak (Mancak).

SILEK LANGKAH TIGO

Silek Langkah Tigo, ( langkah tiga ) pada asalnya milik Kucieng Siam, Harimau Campo, dan Kambieng Hutan; yang secara geografis berasal dari daratan Asia Tenggara. Akan tetapi setelah berada di Minangkabau disesuaikan dengan kepribadian yang diwarnai pandangan hidup, yaitu agama Islam. Namun dalam ilmu silat pusaka yang berbentuk Langkah Tigo dan juga dinamakan Silek Tuo, mulai disempurnakan dengan mengisikan pengkajian faham dari berbagai aliran Islam.

Angka 3 sebagai “hakikat” menjadi rahasia dan harus disimpan. Untuk menjamin kerahasiaannya, maka ilmu silat tidak pernah dibukukan. Dalam pengalaman dan penelitian yang dilakukan kenyataan menunjukkan, bahwa amanat ” suatu pengkajian yang bersifat rahasia ” itu sampai kini masih berlaku bagi orang tua-tua Minangkabau. Langkah Tigo dalam silat Minang, didalamnya terdapat gerak-gerak yang sempurna untuk menghadapi segala kemungkinan yang dilakukan lawan. Perhitungan angka tiga disejalankan dengan wirid dan latihan, inipun tidak semua orang dapat memahami dan mengamalkannya karena mistik.

Kaifiat atau pelaksanaannya dilakukan secara konsentrasi sewaktu membuat langkah tigo. setiap langkah ditekankan pada ” Alif, Dal, Mim “ Tagak Alif, Pitunggue Adam, Langkah Muhammad, Tegak Allah, Kuda-kuda bagi Adam, Kelit dari Muhammad, Tangkapan oleh Ali, dan tendangan beserta Malaikat. ( sandi kunci bergerak ).

SILEK LANGKAH AMPEK

Pembentukan Silat Langkah Ampek oleh Ninik Datuk Suri Diraja di Pariangan serentak dengan Silat Langkah Tigo. Silat Langkah Ampek, berasal dari gerak-gerak silat Anjieng Mualim dan pengawasannya turun temurun juga diserahkan pada Harimau Campo, yang dapat menjelma bila disalahi membawakannya. Oleh karena si penciptanya telah menyeragamkan bentuk dan metode serta pengisiannya.

Maka silat Langkah Ampek pun dimulai dengan Tagak Alif. Perbedaannya terletak pada perhitungan angka yaitu 4, sebagai angka istimewa (ingat mistik Pythagoras). Walaupun bersifat mistik dan sukar dipahami bagi awam, namun bagi Pesilat sangat diyakini kebenarannya. Sewaktu membuka Langkah Ampek dilakukan konsentrasi pada Alif, Lam, Lam, Hu. SILAT LANGKAH SEMBILAN Perhitungan langkah dalam Silat Minang yang terakhir adalah sembilan. Dari mana datangnya angka sembilan. Dalam pengkajian silat dinyatakan sebagai berikut: Langkah 3 + Langkah 4 = langkah 7. Itu baru perhitungan batang atau tonggaknya. Penambahan 2 langkah adalah : • Tagak Alif gantung dengan penekanan pada ” Illa Hu ” ini diartikan satu langkah. • Mim Tasydid dalam kesatuan Allah dan Muhammad, gerak batin yang menentukan, berarti satu langkah.

Menurut faham Al Hulul bahwa apabila yang Hakikat menyatakan dirinya atau memancarkan sinarnya dalam realitasNya yang penuh; itulah keindahan. Pesilat itu adalah seniman dan seorang seniman adalah orang yang tajam dan tilik pandangannya, yang dapat melihat keindahan Ilahi dalam dirinya. (Gazalba,IV/1973:527) Silat Langkah sembilan biasanya dibawakan sebagai “Pencak” (Minangkabau: Mancak), artinya : Menari. Dalam kata majemuk “Pencak-Silat” dimaksudkan “Tari Silat”. Langkah Sembilan memperlihatkan pengembangan gerak-gerak ritmis, dengan tidak meninggalkan unsur-unsur gerak silat