Pengantar ke langkah dalam Silek (3)

0
96

Itulah sebabnya orang-orang tua kita mengatakan apuihlah malu. Apakah malu itu? Malu, adalah arang nan tacoreang di kaniang. Rupanya malu itu tercermin pada wajah di keningnya sendiri, yang tak bisa disembunyikan, nan indak bisa disuruak-suruak-an. Format yang sudah melalui proses rethinking, serta sesuai dan pas untuk kiprah zaman sekarang, selayaknya disosialisasikan sebagai terapan kreatif pakaian kehidupan baru anak nagari, khususnya generasi muda tanpa harus menantang derasnya arus global masa kini. Kehendak dan tuntutan zaman tidak lagi sama dengan tuntutan era sebelumnya, sehingga format inilah barangkali yang diisyaratkan adat :

sakali aie gadang
sakali tapian baralieh
sungguahpun baralieh
di sinan juo.

Sungai adalah sungai, sekalipun tepiannya telah beralih. Masyarakat tidak lagi mandi di sungai. Generasi muda tidak lagi belajar di tapian pangulu, di lembaga pendidikan ninik mamak, seperti tapian, sasaran, surau dan pamedanan anak nagari, tetapi di sekolah-sekolah modern, di perguruan-perguruan tinggi, di lembaga-lembaga kursus keterampilan, dan di pesantren-pesantren. Begitupun sikap mentalnya, tidak lagi dimandikan di tapian, ditempa di sasaran, di pamedanan pangulu, tetapi lewat berbagai cara masa perkenalan masuk sekolah, orientasi studi, studen day dan inisiasi masing-masing jurusan saat memasuki dunia perguruan tinggi.
Setiap kelompok organisasi atau lembaga pendidikan, dan keterampilan memiliki cara sendiri dalam menerima anak didiknya, menerima calon mahasiswa baru, menerima anggota baru, yang terbiasa dan di biasakan dari mula zaman perpeloncoan, perkenalan, sampai ke zaman inisiasi gaya modern, baik yang memiliki sistem dan metoda tertentu yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum, sampai kepada pelaksanaan inisiasi menurut selera sendiri-sendiri bahkan sampai kepada cara-cara kekerasan dan penyiksaan yang tak memanusia.
Mencermati peristiwa yang berkembang dalam alam kehidupan dunia masa kini, secara jeli harus diperhatikan, disimak dan dipergunakan sebagai bandingan terhadap kemungkinan penyediaan bekal generasi dalam upaya mempersiapkan diri menuntut ilmu ke negeri orang, dulu, sekarang, bahkan esok. Diperlukan ketegaran tersendiri lahir dan batin, tidak bisa hanya mengandalkan material belaka, dengan bayangan kesuksesan fatamorgana kehidupan duniawi, dengan mengandalkan kemampuan material yang banyak. Sementara jiwa dan mental si anak generasi kering kerontang, kropos, bopeng, tak bernyali, mudah disunglap, mudah kena pengaruh emosional, mudah terkontaminasi budaya luar, mudah kena pengaruh hipnosa jarak jauh yang bertameng penyembuhan, bahkan mudah dicetak ulang dengan pemikiran-pemikiran, paham-paham yang lagi trendi, semasa.
Mereka yang tak mewarisi nilai-nilai peradaban yang terakumulasi dalam nilai adat alam Minangkabau berarti tak mewarisi prilaku yang beradat, tak mewarisi bekal sifat-sifat dasar seorang satria yang jujur, santun, sportif, dengan semangat juang yang tinggi sebagai seorang generasi anak muda yang tangguh. Padahal nilai jati diri tanah leluhur nenek moyangnya, telah teruji sepanjang zaman, dibiarkan menjadi asing di negerinya sendiri. Barangkali karena canggihnya zaman, ungkapan adat di bawah ini sudah tak diperlukan lagi.