Pembagian Silek Berdasarkan Gerak Tubuh

0
137

Silek Raga

Ini terdiri dari berbagai macam olah tubuh. Baik silek itu sendiri maupun pengembangan silek dalam bentuk seni olah tubuh lainnya.

Gerakan silek juga mengilhami atau menjadi dasar gerakan berbagai tarian dan randai (drama Minangkabau).[1] Emral Djamal Dt Rajo Mudo (2007) pernah menjelaskan bahwa pengembangan gerakan silat menjadi seni adalah strategi dari nenek moyang Minangkabau agar silat selalu diulang-ulang di dalam masa damai dan sekaligus untuk penyaluran “energi” silat yang cenderung panas dan keras agar menjadi lembut dan tenang.

Mancak (Pencak) : Gerakan silek yang dilakukan dua pesilek namun tidak akan saling melukai karena dilakukan untuk atraksi
Randai : Gerakan silek dengan tari – tarian dan bunyi-bunyian

Atraksi randai sering dilakukan secara berkelomok membentuk lingkaran. Biasanya pemain menggunakan celana gombrong dan mengeluarkan bunyi dari tepukan ke celana serta suara dari mulut pemain

Silek Kato (Kata)

Silek Kato adalah basilek lidah (barsilat lidah) sebuah bentuk media pendidikan tradisi yang diselenggarakan secara khusus, pada tempat yang khusus, dan pada saat yang khusus pula. Melatih diri dalam “bakato-kato” untuk memperlacar pembicaraan.

Silek kato hanya menggunakan suara dan sedikit sekali menggunakan anggota tubuh lainnya. Biasanya hanya sedikit tangan dan bagian tubuh lainnya untuk mendukung kata-kta

Bakato-kato, atau berdialog dengan nilai-nilai kepiawaian adat itu sendiri, sebenarnya berdialog dengan wujud bayangan diri sendiri sebagai mitra. Dan dialog tersebut merupakan sebuah orasi dari hasil perenungan berbagai hasil inventarisasi tradisi sesuai dengan pesan dan isyarat adat untuk selalu berusaha “mangampuangkan nan taserak”. Hasilnya dimanfaatkan sebagai upaya menemukan kembali nilai-nilai ideal dalam rentangan tali salasilah yang saling hubung menghubungkan antara idiom-idiom adat itu sendiri.

Melatih ketajaman akal, mengarifi makna berbagai tanda, simbol, dan isyarat-isyarat adat sesuai arah dan tujuan pembicaraannya. “Malantiang manuju tampuak, manembak ado sasarannyo” dalam artian yang : Tersurat memulangkan masalah kepada yang punya masalah. Tersirat : mambalikkan kato kapado nan punyo kato. Tersuruk : mengembalikan diri kepada yang punya Diri. (oleh Emral Djamal Dt Rajo Mudo)

Silek Kato juga berkembang dengan syair – syair yang disampaikan dalam bentuk nada – nada tertentu

Silek Batin (Ghaib)

Seni beladiri silek (silat) Minang sepakat pada hakekat silat yang mencari kawan atau menjalin silaturahim, dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Silek membumi di Minangkabau. Karena ia benar-benar tumbuh dari akar dan tradisi yang selalu berfilsafat pada alam terkembang menjadi guru.

Silek ini mengandalkan kedekatan kepada sang pencipta. Ada juga sumber yang menyebutkan istilah gayuang (gayung), Silek ini menggunakan tenaga dalam dan kekuatan bathin untuk menyerang lawan, ataupun untuk olah rasa. Salah satu aliran silek ini yaitu Silek Ulu Ambek. Silakan Baca Silek Batin