Mengarifi Sejarah Bukan Mengata

0
127

Oleh Emral Djamal Dt Rajo Mudo
1.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang,
bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika :
dunia bertengkar, makar

tubuh terkapar, lapar
jasad terdampar, liar
fikiran berkisar, nanar
jiwa kesasar, mungkar
percaturan ambisi

selingkuh kedurjanaan nyala api
penjarahan negeri
wabah datang galodo jadi,
2.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang
bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika :
akupun mengundang naga laut selatan

ulang mengulang peristiwa zaman :
jawi orok lembu bercula

si keti muna sigulambai raya
si alimun si kalimun
si mambang biopari, dewa sati dewa peri
dewa tujuh bawah gunung
jumbalang jumbalik hantu siampa

jin lawik jindarah jin serakah
segala wabah segala penjarah
3.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang
bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika, aku bicara tentang peri segala rahasia :
tanah dahulunya bukanlah tanah, hanya air

air dahulunya bukanlah air, hanya angin
angin dahulunya bukanlah angin, hanya api
api dahulunya bukanlah api, hanya cahaya
cahaya dahulunya bukanlah cahaya, hanya
hidayah pada akal budi-Ku
Sementara, lolongan srigala aumnya harimau ringkik kuda malam hari

murai berkicau pagi elang berkulit di langit tinggi
kujalin kasih pada orang-orang dahulu,

para tetua segala datu
pendekar negeri panglima hulu,
imam khatib biopari segala tuanku,
ya syaikhi ya sayyidi ya penghulu bersenandung merdu
menguak kehijauan biru dalam gaung kalbu
4.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang
bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika :
Sang nafiri Illahi penegak hak memetik tali kecapiNya, dan .

dari batang tubuh sang pewaris karunia jiwa, geliga Allah melantunkan puji asmaNya,

Takutpun hilang berani tiba sekata kita dalam alam seiya kita dalam negeri

!
yang tak mewarisi peradaban tak memiliki batas sempadan
Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang

bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu.
1991

Kuteguk Embun Di Daun Keladi

Oleh : Emral Djamal
Kuteguk embun di daun keladi

kutuang air di lembaga diri
kutapik langkah tetua negeri
kugenggam sekepal tanah debu bumi
kutikam jejak telapak kaki para nabi
kusari kisaian hari tanah dan air ini
ku corak sebuah tatakala bidadari
Untukku,

kaumku dan bangsaku di pertiwi
peluh ipuh memayang seni
linang-linangnya menyapih hati
di malam menjelang pagi
Sayang,

sayang sekali
kuteguk embun di daun keladi

kutuang air di lembaga diri
minum setetes mabuknya berhari-hari
kata sepatah menyungkuri bumi
meminang-minang langit tinggi
Bila kuingat menggigil sendiri

bila dijamah aku lupa diri.

  1. emral djamal

KULINDAN SUMUR TUA

Oleh: Emral Djamal
Berabad-abad kudera hari-hari menegak diri mengemban amanah insani, pengabdian fikri atas perjalanan kisah orang-orang dahulu lewat khabar-khabar sunnah tentang kebangkitan umat para nabi sahabat-sa habat setia orang-orang saleh, jujur dan taqwa. Juga lembaran-lem baran kumuh salasilah tambo, tonggak tonggak tareh jilatang negeri, rambu-rambu bagi persinggahan hidup di jagad raya ini semata.

Mambangkik batang tarandam, menghidupkan tulang-tulang mati di kerapuhan sendi-sendi generasi bersimbah peluh keringat badani me rentakkan kaki menggetari hati mengesa alif membinar linang-linangan Illahi. Namun selalu saja diri ini terkait Lam, leher-leher kaku dibisu li dah kelu hati sendu. Pilu.

Kurebahkan jasad ini ke bumi bersimpuh lara, nestapa bergelimang sujud duka kezaliman diri yang hina dina. Di sajadah ini bumi hamparan kesadaran jagad raya, kupilah-pilah sampah semesta bak pemulung segala dosa penebus kegelapan abad demi abad perjalanan zaman berduka Laa laa.

Kucoba bersintak lagi bangkit tegak berdiri beralaskan dua telapak kaki melangkah serta Mim, mengepaki dua sayap tangan-tangan harapan mengitari pusaran Ha. Dan reruntuhan negeri ini kukubur kubur mati, kugiring di detak nadi melengkingkan era, kupiuh jadi tali kerinduan pada langit, ketika bumi bergumul menelan keengkaran dunia..

Lalu dari dua telapak tangan imajinasi ini setangkai bunga hadir dalam huruf Lam, spektrumnya kukembalikan pada alif, melesat tinggi menem bus petala langit sampai ke kaki. Riaknya menggetari petala bumi menelusuri sudut-sudut malam menuju waktu mendekap fajarku alif-Mu.

emral djamal, 1998